AZLAW&PURAKA
Lewati ke konten utama
27 Sep 2026 Artikel

Belajar Mediasi Bersama Puraka – Episode 2 Mediator: Bukan Hakim, Bukan Pemberi Solusi

Pada Episode 1, kita telah mengenal mediasi sebagai salah satu cara penyelesaian sengketa yang mengutamakan dialog. Namun, jika mediasi memberikan ruang kepada para pihak untuk berbicara dan mencari solusi bersama, lalu siapa yang memastikan proses tersebut tetap berjalan secara konstruktif?

Di sinilah peran mediator menjadi penting.

Dalam praktiknya, mediator sering kali dipersepsikan sebagai orang yang akan membantu para pihak menentukan solusi. Tidak jarang pula mediator dianggap sebagai pihak yang harus mampu membuat kedua belah pihak “berdamai”.

Padahal, peran mediator tidak sesederhana itu.

Siapa Itu Mediator?

Secara sederhana, mediator adalah pihak ketiga yang membantu para pihak yang bersengketa untuk berkomunikasi, memahami kepentingan masing-masing, dan mengeksplorasi kemungkinan penyelesaian sengketa.

Mediator tidak berada di pihak salah satu pihak. Ia juga bukan orang yang bertugas menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Hal ini yang membedakan mediator dengan hakim atau pihak yang memiliki kewenangan untuk memutus suatu perkara.

Jika hakim memberikan keputusan berdasarkan kewenangan yang dimilikinya, mediator justru membantu para pihak agar mereka sendiri dapat mengambil keputusan mengenai penyelesaian sengketanya.

Dengan kata lain, mediator mengelola prosesnya, sementara keputusan tetap berada di tangan para pihak.

Mediator Bukan Hakim

Ketika seseorang datang ke proses mediasi, sangat mungkin masing-masing pihak merasa memiliki alasan yang paling benar.

Pihak pertama mungkin membawa bukti dan argumentasi yang menurutnya menunjukkan bahwa ia berada di posisi yang benar. Pihak kedua pun dapat datang dengan keyakinan yang sama.

Jika mediator kemudian mengambil posisi untuk menentukan siapa yang benar, proses mediasi akan kehilangan salah satu fondasi utamanya: netralitas.

Mediator tidak bertugas mengadili.

Ia tidak mengatakan:

“Menurut saya, Anda yang benar.”

atau

“Seharusnya Anda menerima tuntutan pihak tersebut.”

Sebaliknya, mediator membantu para pihak memahami persoalan yang sedang mereka hadapi dan membuka ruang agar mereka dapat mempertimbangkan berbagai kemungkinan penyelesaian.

Netralitas bukan berarti mediator tidak peduli terhadap konflik yang terjadi. Netralitas berarti mediator tidak menempatkan dirinya sebagai pembela salah satu pihak.

Mediator Juga Bukan Pemberi Solusi

Di sinilah salah satu kesalahpahaman tentang mediasi sering muncul.

Para pihak terkadang datang dengan harapan bahwa mediator akan mengatakan:

“Solusinya adalah seperti ini.”

Harapan tersebut dapat dimengerti. Ketika seseorang berada dalam konflik, ia mungkin ingin persoalannya segera selesai dan membutuhkan seseorang untuk memberikan jalan keluar.

Namun, memberikan solusi bukanlah fungsi utama mediator.

Mengapa?

Karena solusi yang datang dari mediator berisiko menggeser kendali penyelesaian sengketa dari para pihak kepada pihak ketiga.

Dalam mediasi, justru para pihak yang diharapkan menemukan dan menyepakati penyelesaian yang dapat mereka terima.

Mediator dapat membantu dengan mengajukan pertanyaan, merangkum pembicaraan, mengidentifikasi kepentingan, membantu memperjelas persoalan, atau mengarahkan percakapan agar tetap produktif.

Tetapi keputusan akhirnya tetap berada pada para pihak.

Lalu, Apa yang Sebenarnya Dilakukan Mediator?

Jika mediator tidak memutus dan tidak memberikan solusi, apakah mediator hanya menjadi “pendengar”?

Tentu tidak.

Pekerjaan mediator justru membutuhkan keterampilan yang cukup kompleks.

Mediator perlu membantu menciptakan kondisi agar para pihak dapat berbicara secara lebih konstruktif. Ketika percakapan mulai dipenuhi tuduhan, misalnya, mediator dapat membantu mengembalikan pembicaraan pada persoalan yang perlu dibahas.

Ketika salah satu pihak terlalu berfokus pada tuntutannya, mediator dapat menggali apa yang sebenarnya menjadi kepentingan di balik tuntutan tersebut.

Ketika komunikasi terhenti, mediator dapat membantu membuka kembali ruang dialog.

Dan ketika para pihak mulai menemukan kemungkinan penyelesaian, mediator membantu memastikan bahwa pilihan tersebut benar-benar dipahami dan dipertimbangkan oleh para pihak.

Karena itu, mediator bukan sekadar “orang yang berada di tengah”.

Mediator adalah pihak yang membantu mengelola proses agar para pihak memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memahami persoalan dan mengeksplorasi penyelesaiannya.

Mengapa Mediator Harus Netral?

Bayangkan sebuah mediasi antara dua pihak yang memiliki kepentingan berbeda.

Jika mediator sejak awal menunjukkan keberpihakan, salah satu pihak dapat merasa bahwa proses tersebut tidak lagi adil. Kepercayaan terhadap mediator pun dapat berkurang.

Padahal, kepercayaan merupakan salah satu unsur penting dalam proses mediasi.

Netralitas membantu mediator menjaga jarak profesional dari kepentingan masing-masing pihak. Dengan demikian, perhatian mediator dapat diarahkan pada proses dan kebutuhan dialog, bukan pada upaya memenangkan salah satu pihak.

Namun, netralitas juga bukan berarti mediator harus bersikap pasif.

Mediator tetap perlu aktif menjaga kualitas proses, memastikan komunikasi berlangsung secara layak, dan membantu para pihak mengeksplorasi persoalan yang relevan.

Netral bukan berarti diam.
Netral bukan berarti tidak melakukan apa-apa.

Netral berarti mediator tidak mengambil alih keputusan dan tidak berpihak dalam memperjuangkan kepentingan salah satu pihak.

Ketika Para Pihak Meminta Mediator Memberikan Solusi

Dalam praktiknya, permintaan seperti ini sangat mungkin terjadi.

“Pak/Bu Mediator, menurut Anda bagaimana sebaiknya?”

“Kalau Anda di posisi saya, apa yang akan Anda lakukan?”

“Sudah, mediator saja yang menentukan jalan keluarnya.”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa para pihak mungkin sedang membutuhkan bantuan. Namun, mediator perlu berhati-hati agar bantuan tersebut tidak berubah menjadi pengambilan keputusan atas nama para pihak.

Mediator dapat mengembalikan pertanyaan tersebut kepada pihak yang bersengketa:

“Apa yang menurut Bapak/Ibu menjadi pilihan yang mungkin dilakukan?”

atau:

“Apa yang paling penting bagi Bapak/Ibu untuk dapat menyelesaikan persoalan ini?”

Pertanyaan semacam ini membantu mengembalikan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada pihak yang memang memiliki kepentingan langsung terhadap hasilnya.

Sebab, kesepakatan dalam mediasi bukanlah solusi yang diberikan mediator kepada para pihak.

Kesepakatan adalah keputusan yang dibuat oleh para pihak setelah melalui proses dialog.

Mediator Membantu Para Pihak Menemukan, Bukan Menentukan

Dari sini kita dapat melihat perbedaan mendasar antara mediator dengan pihak yang memiliki kewenangan memutus.

Mediator tidak harus memiliki jawaban atas konflik yang sedang dihadapi para pihak.

Yang lebih penting, mediator memiliki kemampuan untuk membantu para pihak menemukan pertanyaan yang tepat, menggali kepentingan yang ada, memperjelas persoalan, dan membuka kemungkinan yang sebelumnya mungkin tidak terlihat.

Karena itu, keberhasilan seorang mediator tidak selalu dapat diukur dari seberapa cepat ia memberikan solusi.

Justru salah satu tantangan mediator adalah menahan diri untuk tidak menjadi pemberi solusi ketika para pihak mengharapkannya.

Mediator membantu proses berjalan.

Para pihak yang menentukan hasilnya.

Dari Mendengar hingga Mengajukan Pertanyaan

Jika demikian, keterampilan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seorang mediator?

Kemampuan mendengar menjadi salah satu fondasi penting. Namun, mendengar dalam mediasi bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara.

Mediator perlu memahami apa yang dikatakan, menangkap makna di balik pernyataan para pihak, mengenali kepentingan yang muncul, dan mengetahui kapan harus menggali lebih jauh.

Selain itu, mediator juga membutuhkan kemampuan mengajukan pertanyaan.

Pertanyaan yang tepat dapat membantu para pihak melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Sebaliknya, pertanyaan yang tidak tepat dapat membuat pihak lain merasa dihakimi, diarahkan, atau bahkan disudutkan.

Karena itu, menjadi mediator bukan sekadar belajar apa yang harus dikatakan, tetapi juga belajar kapan harus mendengar, kapan harus bertanya, dan kapan harus memberi ruang kepada para pihak.


Bersambung ke Episode Berikutnya

Pada Episode 3, Puraka akan membahas salah satu keterampilan paling mendasar dalam proses mediasi: mendengar.

Mengapa mediator perlu benar-benar mendengar, bukan sekadar mendengarkan? Apa perbedaan antara mendengar, memahami, dan menyetujui? Dan bagaimana cara mediator menggunakan apa yang didengarnya untuk membantu para pihak bergerak menuju dialog yang lebih konstruktif?

Mari terus ikuti serial Belajar Mediasi Bersama Puraka, untuk memahami mediasi bukan hanya sebagai proses penyelesaian sengketa, tetapi juga sebagai keterampilan membangun dialog.